Jumat, 27 Maret 2015

Belajar Dari Film



11.30 pm
Nonton lg film the last samurai, hmmm.. termehek mehek lg nih, (padahal ini udah yang keberapa kali aku nonton) apalagi pas adegan Algren mau pergi perang trus dipakei baju zirah sama Taka.. hmmmm soooo romantic tp sediiihh.. hiks.. Y.Y
Eh tp btw, bukan itu yg mau aku omongin disini.. setiap kali nonton film ini, aku jadi ngebayangin filosofi hidup.. yes.. filosofi hidup seorang samurai itu sangat sederhana, tapi sarat makna..
Jadi keinget hidupku yg udah hampir 30 tahun ini, apa pernah sekaliiii aja mikirin filosofi hidup? Buat apa aku hidup? Bagaimana menjalaninya? Apa udah bener? Jangan2 kaya si Mr. Omura, seorang samurai yg ‘lupa sama dirinya sendiri’
Selama ini.. sudah betulkah keimananku? Aqidahku? Akhlakku? Sudah sesuaikah dengan fitroh yg Allah tetapkan? Emang harus aku akui, aku mengenal Islam mungkin udah dari orok, tp sejatinya ga betul2 mengenal, hanya diberi tau dan itu pun ternyata banyak yg salahnya.. tp pernahkah berfikir, apa waktu itu sudah tumbuh keimanan dalam hatiku? Sepertinya belum.. jika waktu itu aku sudah ‘betul2 beriman’ ga akan kaya gini mungkin cerita jalan hidupku.. pun sekarang, stelah aku merasa keimanan itu ‘sudah ada’ dalam hatiku..
Kenapa aku selalu takut akan masa depan? Jujur aku takut kalo suamiku ‘pergi’ lebih dulu, lantas aku gimana sama anak2..? pernahkan aku berfikir, bahwa yg ngasih rezeki dan perlindungan itu bukan suami tp Allah? Dan lagi siapa yg jamin kalo besok atau abis nulis ini, aku ‘pasti’ akan ada terus di dunia..?
Ya Allah.. Astaghfirullahal’adziim.. Robighfirlii..
Aku, masa kalah sama samurai kafirin itu..? yg sama sekali ga takut besok akan terjadi apa.. bahkan mati skalipun?
Dan satu hal lagi, sekarang aku lagi ditinggal ke Jakarta sama suami.. rasanya masih sangaaaatt berat kalo lg sendirian gini.. tp aku lupa satu hal, gimana kalo suatu saat, suamiku menikah lagi, dan otomatis stay dirumah ga akan setiap hari..? jangan berfikir kalo itu hal mustahil, becoz everything can happened if Allah wants.. astaghfirullah.. robighfirlii..
Ternyata nonton film yg ga ada islam2nya sama sekali, malah bikin belajar n mudah2an bisa mempertebal keimanan.. Aamiin..

Senin, 26 Desember 2011

My way to teach

Cara paling baik mendidik anak adalah dengan keteladanan. Aku sangat sangat setuju sekali akan hal itu. Selain sudah ada contoh real dari Rasulullah SAW ketika mendidik, ternyata aku juga telah membuktikan cara seperti itu dalam mendidik Faqih. Sering aku lihat hal2 yang tidak pernah ‘kuajari’ dengan kata2, dengan sendirinya dia bisa melakukannya hanya dengan melihat kami melakukannya. Kadang aku jadi takut, takut melakukan atau bicara sesuatu yg salah di depannya kemudian ditiru.
Mungkin ini salah satu lagi kelebihan homeschooling. Orangtua dituntut selalu berusaha jadi orang yang lebih baik karena harus sadar bahwa ada yang memperhatikan dan siap meniru segala hal yang dilakukannya selama 24 jam. Tidak ada jeda ‘anak sedang pergi sekolah’ lalu kita merasa ‘bebas’. Tapi jika karena tidak ada ‘jeda’ tersebut membuat kita jadi lebih baik, why not? makanya aku sering prihatin melihat anak2 yang sekolah, dari rumah dia dibebani tugas supaya ‘jadi orang yang lebih baik’ ternyata orangtuanya sendiripun malas ‘jadi lebih baik’ Mungkin ini salah satu sebab aku ingin ber-homeschooling.. biar kami sekeluaga semuanya sama - sama dituntut untuk belajar.
Udah gitu apakah benar setelah dewasa menjadi lebih baik? Pernah beberapa waktu lalu di televisi ada satu kuis namanya ‘are u smarter than a 5th grader?’ itu menurutku hanya semakin memberikan fakta bahwa ternyata setelah dewasa kita banyak lupa pelajaran di sekolah yang dulu mati matian dihafal buat ujian. kenapa itu bisa terjadi, ya karena setelah dewasa kita tau mana yang penting diingat dan mana yang ‘kurang penting’ atau bahkan ‘tidak penting’ untuk diingat sama sekali dalam menjalani kehidupan nyata. Dan parahnya lagi sebagian besar pelajaran di sekolah memang terkesan ‘tidak penting’ untuk diingat setelah kita dewasa. Jadilah kita orang dewasa yang terlihat ‘lebih bodoh’ dari anak kelas lima.
Untuk itu aku ingin menerapkan homeschooling yang bisa bebas memilih mau belajar apa, belajar sama siapa, dan belajar dimana saja, sehingga semua pelajaran menjadi ‘penting’ karena ada minat di dalamnya dan tentu saja tidak segera dilupakan begitu saja setelah ujian. Mudah2an Allah swt memudahkan, aamiin

Jumat, 04 November 2011

Belajar Bersyukur Sebagai Seorang Istri


Sebagai seorang Istri, mungkin sesekali kita pernah lupa untuk bersyukur pada Allah telah mengaruniakan nikmat yg begitu banyak. Dan dari kejadian yang aku alami ini aku belajar untuk lebih bersyukur atas setiap detik yang telah Allah karuniakan,

Pagi itu baru saja aku selesai memandikan bayiku yang baru berusia 2 bulan. Lalu tiba tiba hp ku berdering dan kulihat dari nomor lokal yang tidak ada dalam phone book.
“halo?” jawabku
“dengan ibu rieda?”
“iya betul, ini dari mana ya?”
“kami dari RS Kasih Ibu, suami ibu, Bpk Arief tadi pagi kecelakaan, jatuh dari sepeda motor dan sekarang ada di UGD. Diharapkan Ibu datang secepatnya. Tapi ibu jangan khawatir, Bpk kondisinya skrg sudah sadar”
“Innalillahi.. iya iya pak saya segera kesana..”
Dengan perasaan tak menentu aku pergi ke rumah sakit. Alhamdulillah ada tetanggaku yang bersedia mengantarku ke Rumah Sakit. (Jazakallah Khoir Pak Zaenal dan Bu Yatno)
Tiba di rumah sakit aku melihat kondisi suamiku dengan luka memar di kepala, pipi, tangan, dan kaki. Tapi kata dokter Alhamdulillah lukanya hanya luka luar dan tidak perlu opname.
Meskipun begitu yang membuatku tak kuat menahan tangis, sewaktu melihat kedatanganku, suamiku malah bilang “maaf ya, tadi aku ga nganter belanja..soalnya tadi buru2 ke kantor”
Subhanallah.. masih saja dia pikirkan aku ditengah kondisinya yang seperti itu..
Setiap pagi, biasanya aku memang selalu ditemani suamiku ke warung, tak pernah sekalipun ia merasa malu mengantarku belanja sayuran dan membantuku menjinjingnya ketika pulang. Itu ia lakukan bukan karena aku sibuk menggendong anakku yang masih bayi, ketika kami belum punya anak pun aku tak pernah ‘dibiarkannya’ keluar rumah sendiri jika memang dia bisa mengantar. Pernah ada yang bertanya padaku “apa ga risih Bu, dikawal terus?” aku geli mendengarnya, masa sama suami sendiri ditemani kok risih? Aku malah senang kok punya suami yang perhatian seperti dia.
aku jadi tersadar betapa perhatiannya yang begitu besar kurang aku syukuri
Ya Allah, jika kejadian kecelakaan ini membuatku sadar dan bisa membuatku lebih baik dalam bersikap sebagai seorang isteri, aku bersyukur..
Dan aku juga bersyukur masih punya waktu untuk bisa merawatnya, mencintainya, dan yang terpenting aku masih punya waktu untuk bisa lebih taat padanya dan mendapatkan surga-Mu, aamiin..

Selasa, 27 September 2011

Finally..

 Akhirnyaa.. sempet jg bikin blog buat Faqih.. meskipun aku jg baru sih belajar nge-blog :D
blog ini aku buat sebagai catatan belajar anakku Faqih yg rencananya mau homeschooling, berhubung anaknya baru 2thn, jadi yaa baru dibuatin juga blog nya..
alasan utama kami (aku & suami) meng-HS kan Faqih, karena kami ingin memprioritaskan pendidikan agama yg benar (Quran Sunnah), dan kami rasa HS lah yg terbaik buat kami..
kegiatan Faqih sehari2 skrg masih seputar kegiatan anak2 balita, kayak mainan air n sabun sambil mandi, trus pura2 bantu ibunya jemur di belakang, padahal mau main tanah :D tapi aku ga akan pernah melarang dia beeksplorasi selama ga ngebahayain tentunya.. kan namanya juga sekolah di rumah, yaa.. apa2 dijadiin bahan buat belajar..
kayanya segitu dulu hari ini.. first post nih..hehe :D